MAKNA “AL-QUR’AN TURUN DALAM TUJUH HURUF

AL-QUR’AN

pendapat kelima yang menyatakan bahwa angka (jumlah) tujuh tidak memiliki arti atau makna, dapat dijawab dengan mengatakan bahwa hadits-hadits dalam masalah ini menunjukkan secara tegas bahwa ia memiliki makna hakekat dan bersifat membatasi jumlah huruf tersebut ada tujuh. Di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

أَقْرَأَنِى جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِى حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

”Jibril 'alaihissalam membacakan (al-Qur’an) kepadaku dengan satu huruf, lalu aku berulang kali meminta agar huruf itu ditambah dan ia menambahkan kepadaku sampai tujuh huruf.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam:

وإن ربي أَرْسَلَ إِلَيَّ : أَنِ اقْرَإِ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفٍ ، فَرَدَدْتُ عَلَيْهِ : أَنْ هَوِّنْ عَلَى أُمَّتِي فَأَرْسَلَ إِلَيَّ أَنْ اقْرَأْ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

”Sesungguhnya Rabbku mengutusku untuk membaca al-Qur’an dengan satu huruf. Maka aku memohon kepada-Nya agar memberikan keringanan kepada ummatku. Maka Dia mengutusku agar membacanya dengan tujuh huruf. (HR. Muslim)
Maka hadits-hadits ini menunjukkan hakekat jumlah tujuh tersebut dan bahwasanya ia menunjukkan pembatasan (bahwa al-Qur’an turun hanya dengan tujuh huruf tersebut)
Dan pendapat keenam yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah Qir’at Sab’ah (tujuh cara bacaan) dapat dijawab dengan mengatakan bahwa al-Qur’an berbeda dengan Qira’at. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penjelasan (petunjuk) dan mukizat. Adapun Qira’at adalah perbedaan cara mengucapkan lafazh-lafazh wahyu, seperti perbedaan dalam masalah takhfif (meringankan bacaan), atau tatsqil (memberatkan/mentasydidkan bacaan), atau mad (memanjangkan bacaan) dan yang semisalnya.
Abu Syamah rahimahullah berkata:”Sebagian orang mengira bahwa qira’at sab’ah (tujuh model bacaan al-Qur’an) yang ada sekarang adalah yang dimaksud dalam hadits (yaitu hadits tentang tujuh huruf). Dan hal itu bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan) para Ulama. Dan hal itu hanyalah dugaan orang-orang yang tidak paham.” (al-Itqaan)
Dan ath-Thabari rahimahullah berkata:”Dan adapun yang termasuk dalam perbedaan qira’at dalam hal me-rafa’-kan (men-dhommah-kan) huruf, memajrurkan (mengkasrohkan) huruf, menashabkan (memfathahkan) huruf, mensukunkan huruf, dan mnetasydidkannya, serta pemidahan huruf ke posisi yang lainnya, namun dengan bentuk yang sama (dalam tulisan). Maka itu tidak termasuk dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

أمرت أن أقرأ القرآن على سبعة أحرف

”Aku diperintahkan untuk membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf.”
Sebab sebagaimana sudah maklum (diketahui) bahwa tidak ada satu huruf pun dari huruf-huruf al-Qur’an – yang mana terjadi perbedaan qira’at di dalamnya menurut pengertian ini- yang perdebatan di dalamnya menyebabkan seseorang kafir menurut pendapat salah seorang ulama. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan bahwa perdebatan dalam masalah ini (masalah perbedaan huruf al-Qur’an) adalah kekufuran dari sisi yang diperselisihkan oleh pelakunya. Dan telah banyak riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam masalah ini.”
Dan mungkin yang menjadikan mereka terjatuh ke dalam kesalahan ini adalah kesamaan dalam angka (jumlah) tujuh, sehingga perkaranya menjadi rancu di hadapan mereka. Ibnu ‘Ammar berkata:”Orang yang menjadikan qira’at menjadi tujuh macam qira’at ini telah melakukan sesuatu yang tidak selayaknya dilakukan, dan membuat bingung orang awam dengan menjadikan orang yang sedikit ilmunya menyangka bahwa qira’at-qira’at tersebut adalah yang disebutkan dalam hadits. Dan seandainya saja ia mencukupkan diri dengan menjadikan qira’at itu kurang dari tujuh atau lebih dari tujuh niscaya akan hilanglah kerancuan ini.”
Dengan bantahan-bantahan ini nyatalah bagi kita bahwa pendapat pertama yang menyatakan bahwa maksud dari tujuh huruf adalah tujuh dialek dari dialek-dialek bahasa Arab dalam megungkapkan satu makna adalah pendapat yang sesuai dengan zhahir nash-nash (dalil) dan didukung oleh dalil-dalil yang shahih.
Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu 'anhu berkata:

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله أمرني أن أقرأ القرآن على حرفٍ واحدٍ، فقلت: ربّ خففْ عن أمَّتي. قال: اقرأهُ على حرفين. فقلت: رب خفف عن أمتي. فأمرني أن أقرأه على سبعة أحرف من سَبْعة أبواب من الجنة، كلها شافٍ كافٍ
”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku:’Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membaca al-Qur’an dengan satu huruf (dialek), lalu aku (Nabi) berkata:’Wahai Rabbku berilah keringanan pada ummatku.’ Maka Dia memerintahkanku dan Dia berfirman:’Bacalah dengan dua huruf.’ Maka aku berkata:’Wahai Rabbku berilah keringanan pada ummatku.’ Lalu Dia memerintahkanku untuk membacanya dengan tujuh huruf dari tujuh pintu Surga, dan semuanya adalah obat penawar yang mencukupi.” (Tafsir ath-Thabari)
Imam ath-Thabari rahimahullah berkata:”Dan tujuh huruf adalah apa yang telah kami katakan yang merupakan tujuh bahasa (dialek). Dan tujuh pintu Surga adalah makna-makna yang ada di dalamnya, berupa amr (perintah), nahyu (larangan), at-targhib (motivasi), at-tarhib (ancaman), qashash (kisah), dan matsal (perumpamaan). Yang mana apabila seorang hamba mengamalkannya, dan sampai kepada batas akhirnya, ia berhak mendapatkan Surga. Dan –Alhamdulillah- tidak ada dalam ucapan para Ulama terdahulu sesuatu yang menyelishi apa yang kami katakan. Dan makna ”semuanya adalah obat penawar yang mencukupi” adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ{57

” Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikannya sebagai obat (penyembuh) bagi orang yang beriman yang dengan nasehat-nasehatnya (petuahnya) mereka mencari kesembuhan dari berbagai macam penyakit yang menyerang dada (hati) mereka dan was-was serta bisikan Syetan. Maka Al-Qur’an telah mencukupi dan memadai bagi mereka dari nasehat-nasehat selainnya dengan penjelasan ayat-ayatnya.”
(Sumber: مباحث في علوم القرآن Syaikh Manna al-Qaththan, Maktabah Ma’arif Linasyr wat Tauzi’ Riyadh, hal 167-169. Diterjemahkan dan dipsoting oleh Abu Yusuf Sujono)

Sumber artikel
http://www.alsofwah.or.id
author : jajat egi
Web   : http://islamagamaku-jajategi.blogspot.com/

Labels: