Pelaku Video Porno DPR Akan Bernasib Seperti Ariel?

ARTIKEL FROM http://hiburan.plasa.msn.com
Publik Indonesia kembali heboh dengan kasus video porno. Setelah sebelumnya ramai oleh kasus Nazriel Irham atau Ariel Peterpan yang melakukan hubungan badan dengan Luna Maya dan Cut Tary, belakangan juga beredar video yang sama dengan pelaku perempuannya diduga sebagai Karolin Margret Natasa, seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDI-P). Namun soal siapa pelaku pria dalam adegan woman on top itu, juga masih menjadi perbincangan hangat.

Semula dari video yang tidak tampak jelas wajah pelaku prianya itu, muncul dugaan nama Aria Bima, anggota fraksi PDIP yang juga Wakil Ketua Komisi VI. Namun kemudian dibantah oleh yang bersangkutan, bahkan melaporkan kasus itu ke polisi. Aria Bima yang merasa terganggu menyebut nama inisial EGM, yang belakangan diketahui Elya Geeraldy Muskitta, Sekjen Parade Nusantara sebagai pelakunya.

Sementara terkait keaslian video itu, pakar telematika Roy Suryo menyebut kalau video itu tidak ada rekayasa atau editing apa pun terhadap sosok perempuan dalam video tersebut. Menurut pria yang juga anggota DPR Fraksi Demokrat itu, 'sulit dibantah' kalau perempuan itu memang yang disebut-sebut selama ini, yang dikenal sebagai seorang dokter dan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Kalimantan Barat itu.

Hal senada juga disampaikan oleh pakar telematika Wahyoe Widayat yang menyebut kalau ada wilayah hitam dari potongan video itu yang sepertinya sengaja untuk mengaburkan wajah pelaku prianya. Sehingga tidak menutup kemungkinan munculnya spekulasi adanya motif tertentu yang diarahkan pada pelaku perempuannya.

Belum ada bantahan secara resmi dari Karolin tentang keaslian video tersebut, namun melalui ayahnya, Drs. Cornelis, MH, yang juga Gubernur Kalimantan Barat, menyebut kalau video itu palsu. Dia menyebut adanya motif tertentu di balik penyebaran video porno tersebut.

Setidaknya ada tiga pihak yang telah mengeluarkan pernyataan akan mengambil langkah terkait kasus ini, yakni Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP, Badan Kehormatan (BK) DPR dan Kepolisian.

DPP PDIP mengaku telah mengambil tindakan, dengan membentuk Tim yang dipimpin langsung oleh Puan Maharani, Putri Ketua Umum Megawati Soekarno Putri. Namun hasil dari tim tersebut terbatas hanya menjadi konsumsi partai, dan hingga kini belum pernah muncul pernyataan resminya.

Sementara Badan Kehormatan (BK) DPR berjanji akan memanggil Karolin untuk dimintai keterangan. M. Prakosa, selaku Ketua BK, merasa perlu untuk segera mengambil tindakan karena polemik tentang pelaku video tersebut menyeret nama DPR sebagai sebuah institusi, dan semakin santer.

Pihak Kepolisian juga berjanji akan menindak tegas pelaku penyebaran video porno, dalam hal ini kilikitik.net, yang diduga sebagai sumber pertama kali video itu disebarkan. Polisi kini mulai mengumpulkan bahan untuk diteliti, lebih lanjut termasuk mengetahui pelaku lain yang kemungkinan terlibat.

Banyak kalangan menyesalkan kejadian semacam ini kembali terulang, apalagi kali ini terjadi di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), lembaga tinggi negara yang sangat terhormat. Bahkan kalau kembali pada kasus Ariel beberapa tahun lalu, DPR lah saat itu yang mendorong kuat agar kasus vokalis Peterpan itu dituntaskan.

Meski ada tiga pihak yang siap turun tangan, kasus ini pun masih seperti bola panas yang belum tahu di mana akan berujung. Masyarakat menunggu tindakan tegas PDIP, tempat Karolin bernaung. Begitupun dengan BK DPR, yang memiliki wewenang memberikan sanksi kepada para anggota DPR yang dianggap bersalah.

Tentu yang paling ditunggu adalah tindakan dari penegak hukum, yang diawali dari Kepolisian. Korps baju cokelat itu ditantang membongkar secara mendalam kasus ini, hingga tuntas, termasuk menemukan motif-motif penyebarannya.

Memang masih terbuka untuk menetapkan pelaku video porno itu sekaligus sebagai tersangka penyebarannya, sebagaimana pernah dialami oleh Ariel saat itu, tergantung dari hasil pemeriksaan. Namun bisa jadi polisi juga hanya mengejar pelaku penyebarannya, tanpa menyentuh pelaku kejahatan moralnya. Kita tunggu saja! (kpl/dar)

Labels: