Peneliti Kembangkan Sistem Pengukur Gempa Berbasis GPS

satelit tsunami
Para peneliti asal California telah mengembangkan sistem yang dapat mengetahui seberapa kuat getaran gempa bumi dan memberikan informasi mengenai dampaknya pada zona patahan. Tidak hanya itu, sistem tersebut juga bisa mendeteksi apabila akan terjadi tsunami.
Dilansir Physicsworld, Senin (9/4/2012), para peneliti ini menggunakan sistem yang berbasis Global Positioning System (GPS). Pendekatan alternatif yang telah dikembangkan selama dua dekade terakhir dengan menggunakan data GPS ini difungsikan untuk memantau kerak bumi dari luar angkasa.
Prinsip dasarnya adalah menciptakan jaringan regional dari stasiun GPS. Kemudian, ahli geofisika dapat melacak posisi stasiun dalam area geografis tertentu. Apabila terjadi gempa bumi, para ilmuwan dapat meneliti pergerakan stasiun-stasiun GPS dan mengetahui seberapa jauh geseran atau patahan akibat dari gempa tersebut.
Brenda Crowell dan timnya dari Scripps Institute of Oceanography di California University mengembangkan pendekatan GPS ini ke dalam sistem untuk pemodelan tingkat gempa bumi secara rinci. Sistem ini didasarkan pada model matematika yang memungkinkan peneliti menggunakan data regional GPS untuk mengkarakterisasikan aktivitas geologi zona tertentu selama gempa bumi berlangsung.
Para peneliti mengklaim sistem mereka dapat memastikan besar gempa secara akurat dan lebih cepat ketimbang metode seismik tradisional. "Ini bisa membantu sebagai alat respon untuk menemukan wilayah yang mengalami kerusakan terbesar dengan lebih akurat. Untuk pemodelan tsunami, metode ini akan bekerja dengan sempurna," tutur Brenda Crowell
Sistem tradisional saat ini masih dibatasi pada penempatan stasiun seismik di dekat lokasi gempa bumi. Padahal untuk menentukan ukuran dan luasnya gempa bumi, seismolog perlu melihat data dari berbagai stasiun yang letaknya berjauhan. Terlebih, karena instrumen di stasiun seismik itu tidak dapat mengukur berbagai lempeng teknotik serta besaran gempa seringkali diremehkan di menit-menit pertama setelah terjadinya gempa bumi.
Sementara itu, ketika gempa bumi melanda wilayah Tohoku, ahli geofisika perlu lebih dari 20 menit untuk menghitung gempa yang berkekuatan 9,0 skala Richter. Apabila pemerintah setempat telah mengetahui tentang adanya gempa lebih awal, maka akan tersedia cukup waktu untuk mengaktifkan sistem peringatan dini.

info : http://berita.plasa.msn.com/

Labels: