Muhammadiyah 1 Ramadhan 1433H jatuh pada hari Jumat

1 Ramadhan 1433 H 


Nahdlatul Ulama (NU) dalam Almanak PBNU yang diterbitkan Lajnah Falakiyah memprediksi tanggal 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012. Prediksi ini diperoleh berdasarkan ilmu hisab yang paling modern. “NU telah memprediksi awal Ramadhan, namun bukan berarti NU telah menetapkan tanggal itu. Ini penting disampaikan,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri dihubungi NU Online di Jakarta, Jum’at.

Dikatakan, dalam menghitung awal bulan qamariyah atau hijriyah NU menggunakan ilmu hisab yang paling modern. “NU menggunakan hisab yang tahkiki-tadzkiki-ashri,” kata Kiai Ghazalie. Berdasarkan hisab modern, seperti dalam almanak NU, posisi hilal pada saat dilakukan rukyatul hilal pada Kamis atau 29 Sya’ban 1433 H baru berada pada ketinggian 1 derajat 38 menit di atas ufuk. Maka hilal dinyatakan belum visibel (imkanur rukyat) sehingga tidak mungkin dapat dirukyat. Menurut Kiai Ghazalie, negara-negara yang tergabung dalam MABIM (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) menetapkan 2 derajat sebagai batas minimal visibilitas pengamatan. “Itu pun oleh pakar astronomi masih mau dinaikkan menjadi 4 derajat,” katanya. Ditambahkan, secara astronomis tidak mungkin hilal (bulan sabit) akan bisa diamati jika masih berada di bawah batas visibilitas pengamatan. Dengan demikian almanak PBNU menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari berdasarkan kaidah istikmal.

sementara itu Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1433H jatuh pada hari Jumat, 20 Juli 2012.
Di sela acara silaturrahim dengan para pengasuh pondok pesantren se-Jawa Timur, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kabupaten Jombang, Suryadharma Ali mengatakan, ada kemungkinan awal puasa tahun ini tidak berbarengan.

Sebelumnya Suryadharma Ali mengundang sejumlah kelompok organisasi masyarakat di Kementerian Agama untuk membahas rencana penetapan awal puasa namun belum bisa menghasilkan kata sepakat.

Sebenarnya, kata dia, pemerintah ingin agar 1 Ramadhan bisa dimulai bersama-sama di antara organisasi masyarakat lainnya.

Namun, mereka tentunya mempunyai dasar pemikiran sendiri maupun kriteria penentuan awal puasa, sehingga belum bisa satu suara.

Walaupun begitu, pihaknya tetap meminta kelompok organisasi masyarakat itu untuk duduk bersama membahas tentang penentuan 1 Ramadhan.

Jika tetap tidak ada persamaan di antara pandangan mereka, Kementerian Agama mempersilakan masing-masing organisasi masyarakat tentang penentuan awal puasa.

info: http://www.tribunnews.com, http://www.nu.or.id/

Labels: